Proses Pembelajaran

Dulu, saya sering protes sama ibu, kok saya sering banget disuruh-suruh sih sama sodara yang lain, saya kan paling bungsu, justru harusnya dimanja dan disayang-sayang. Istilahnya dianakemaskan. Ibu sih senyum aja sambil berkata “sabar dan jalani aja!”. Akhirnya belakangan saya mengerti maksudnya. Saya merasakan manfaatnya. Saya bisa lebih menekan emosi dan terbiasa menjalani segala macam kendala dan cobaan hidup.

Dulu, saya sering protes ketika bapak memberikan uang bulanan sangat terbatas saat kuliah. Jauh dari nominal yang orang lain dapat. Teman dekat saya aja uang mingguannya lebih tinggi dari uang bulanan saya. “bersabar dan aturlah searif mungkin!” kata bapak saat itu. Saya kini bisa mengambil hikmahnya. Saya bisa mengatur keuangan saya pribadi. Sekecil apapun uang bulanan itu, saya tetap berusaha menyisihkan untuk ditabung. Meredam ego untuk kesenangan pribadi yang terkesan mubazir. Dan berusaha sendiri memperoleh penghasilan tambahan ketika ada sesuatu yang harus saya penuhi tapi tidak dapat terpenuhi oleh uang bulanan yang memang sangat mepet itu. Makanya waktu kuliah saya menjadi staff pengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar di Makassar. Penghasilannya sangat lumayan untuk ukuran mahasiswa kere seperti saya. Apalagi beberapa proposal beasiswa saya berhasil tembus di beberapa perusahaan yang menawarkan dana bantuan untuk mahasiswa. Kegiatan mengajar pun berhasil saya lebarkan menjadi guru privat di berbagai tempat dari SD sampai SMA. Wah senangnya bisa merasakan penghasilan sendiri sementara teman-teman saya lainnya masih malak dari orang tua. Saya yakin hal ini tidak akan saya peroleh ketika orangtua saya memanjakan saya dengan materi yang berlebih.

*Mungkin bisa jadi catatan juga buat para orangtua, memanjakan anak dengan memberikan fasilitas materi yang berlebih atau berlimpah adalah suatu sikap yang justru bisa menjerumuskan anak ke dalam lubang ketergantungan dan kemalasan. Mau ini ada, mau itu bisa. Apalagi yang dicari? Sikap inisiatif dan motivasi untuk maju bisa hilang karena segala sesuatunya selalu ada bahkan berlebih*

Dulu, kakak perempuan mengajari saya mengurusi hidup sendiri. Mencuci baju, berbenah rumah sampai memasak. Hal yang untuk pertama kalinya sangat berat saya jalani. Secara sebelumnya saya selalu tau beres. Memang ketika kuliah saya numpang di rumah kakak. Waktu pertama kali belajar masak, saya bisa membuat nasi hangus bagian atas dan bawah tapi tengahnya mentah. Ajaibnya tetap habis termakan oleh perut mahasiswa yang lapar. Subhanallah. Hasil keringat sendiri memang selalu lebih nikmat, seburuk apapun bentuk dan rasanya! Efeknya? Saya merasakan manfaatnya ketika harus merantau di Jakarta jauh dari keluarga. Saya tidak shock bahkan enjoy menjalani kehidupan baru saya di kota yang kata orang kejam. Saya merasa lebih tough menjalani rutinitas hidup sehari-hari di Jakarta.

Dulu, Kakak Laki-laki mengajarkan saya untuk tidak terlalu mengejar nilai mata kuliah. Ketika saya pulang dengan rapor semester yang menurutku bagus dan bisa dibanggakan, justru disambut dengan ekspresi biasa saja. Bahkan dengan kata-kata wejangan yang dulu saya sendiri ga suka mendengarnya…
“Kalo nilai bagus tapi diperoleh dengan hasil nyontek kan percuma! Lagian dalam dunia kerja ga 100% ilmu itu akan kepake! Yang penting prosesnya!”
Kini saya menyadari bahwa proses mencapai sesuatu memang jauh lebih besar manfaatnya. Pemahaman Filisopi sebuah materi jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan besarnya nilai yang dicapai.

Dulu, saya pernah lulus perguruan tinggi negeri berstatus ikatan dinas di Jakarta, tapi kemudian di claim ga boleh ikut karena dinyatakan buta warna. Saya kaget bukan kepalang, karena sebelumnya saya sudah sering tes buta warna dan dinyatakan lulus 100%. Rasa bangga dan senang karena berhasil menembus PTN itu sebagai satu-satunya wakil Indonesia Timur hilang sudah. Tapi setahun kemudian ketika Jakarta rusuh dan dalam kondisi sangat tidak aman, saya pun berpikir mungkin ini hikmahnya saya batal ke Jakarta. Tidak merasakan suasana yang mencekam dan menakutkan itu. Lagipula saya bersyukur dengan tidak jadinya ke PTN itu, saya bisa bertemu dengan teman-teman yang luar biasa di tempat saya kuliah. Mereka mengajarkan saya tentang friendship, survive dan hidup mandiri. Thanks guys, u taught me a lot! Dan saya berpikir kalo seandainya saya jadi kuliah di Jakarta, kemungkinan besar saya bisa terkena shock culture. Bayangin dari Watampone (yang kemungkinan di peta nasional ga kebaca :P) tiba-tiba lompat ke Jakarta. Makanya Allah memberikan saya kesempatan hidup di kota Makassar terlebih dahulu baru kemudian diberi kerjaan di Jakarta. Lompatan yang berirama bukan. Desa  – Kota  – Kota besar! Alhamdulillah!

Pesan moral yang saya ingin sampaikan pada tulisan ini, Jalani hidup dengan nyaman. Jangan cepat berburuk sangka, karena pasti ada pesan penting yang tersirat di dalamnya, yang mungkin baru kita rasakan beberapa waktu kemudian. Kue aja yang rasanya enak banget kan dibuat dari bahan mentah yang ga enak? Nah apa yang menurutmu tidak enak saat itu berserah aja, introspeksi, dan analisa pesan apa yang bisa kita petik, tangkap dan kita olah sehingga menjadi pegangan dalam langkah berikutnya. Agar dapat menjadikan hidup kita lebih nikmat dan enak.

Mari kita belajar dari pengalaman hidup yang telah kita jalani. Bukankah pengalaman itu adalah guru yang terbaik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s