Sampaikan Rasa Kagum Saya buat Mereka!

Jumatan kemarin saya sholat di salah satu dekat mesjid kosan saya di Bandung. Meski terhitung telat datang, saya akhirnya bisa duduk di bagian agak depan. Di sebelah kanan saya ternyata teman kos yang sedang duduk menahan kantuk. Sementara di sebelah kiri, duduk anak belasan tahun dengan prilaku aneh. Saya perhatikan, dia ternyata anak yang memiliki kelainan mental. Terlihat dari gerak gerik dan ucapan yang dilepaskan dari mulutnya yang (maaf) agak miring.

Yang membuat saya tertegun lama menoleh ke sebelah kiri adalah bapak separuh baya yang ada di sebelah kiri anak tadi. Bapak itu terus memegang lengan kiri anak itu dan berusaha menenangkannya ketika dia mulai “beraksi”. Pasti bapaknya pikir saya. Bapak itu dengan sabar memberikan isyarat untuk diam dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Jujur, saya terharu dengan kesabaran bapak itu. Kesabaran yang terlihat tulus dari ekspresi wajahnya.

Selain terharu saya juga merasa malu karena sempat berpikir, kenapa anak ini tidak ditahan saja dirumah. Di masjid dia bisa saja berulah sehingga menganggu jalannya sholat jumat. Terbukti dugaan saya salah. Anak itu bisa dengan baik melaksanakan sholat jumat, paling tidak tidak ada gerakan yang aneh yang bisa menganggu orang di sebelahnya.

Bicara soal orang tua yang memiliki anak seperti tadi, saya selalu kagum dengan mereka. Mereka yang tentunya bisa menerima hal itu dengan lapang dada dan percaya bahwa anak itu adalah gudang pahala baginya. Ketika orang tua lain sibuk dengan memamerkan kelebihan anaknya, bangga dengan prestasi anaknya, sementara mereka mungkin hanya bisa diam mendengar celotehan yang lain.

Pernah ga kalian ngumpul dengan teman, saudara atau siapa saja terus kemudian saling memamerkan hape atau gadget? Merasa paling hina dina ketika tidak bisa menandingi kemampuan gadget mereka karena gadget yang dimilikinya paling standar bahkan cacat. Itu kalo ngomong soal gadget, bagaimana soal anak?! Ya Allah… saya bisa merasakan perasaan orang tua itu ketika berada dalam lingkaran pembicaraan seperti itu

Saya dulu suka menggunakan kata autis sebagai kata ganti dari orang yang selalu sibuk sendiri dengan gadget yang dimiliki. Tapi kemudian saya mendapat teguran dari teman yang mengingatkan bahwa ada orang yang bisa terluka dengan pemakaian kata itu. Kita tanpa sengaja menggunakan kata yang mungkin bisa menjadi bermakna sangat fragile buat orang lain. Maafkan saya pernah mengucapkan kata itu diluar konteks sebenarnya.

Saya selalu salut dengan orang-orang yang bisa melewati tahapan itu dengan wajar bahkan tetap mengangkat kepala tegak tidak ada rasa kecil sama sekali. Orang seperti itu pastilah punya hati yang besar. Orang yang pantas ditiru, diteladani, dicontoh. Tidak semua orang bisa mendapatkan kelebihan itu. Dan kita harusnya belajar banyak dari mereka.

Buat kalian yang membaca tulisan ini dan kenal dengan orang-orang yang saya maksud di atas, tolong sampaikan rasa kagum dan hormat saya buat mereka. Insya Allah… Apa yang dijalani sekarang kelak berbuah manis!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s