Saya dan Cita-cita

20 Tahun lalu…
Waktu itu saya masih duduk di Sekolah Dasar, ketika bapak mengajak anak-anaknya yang lain untuk menghadiri wisuda sarjana kakak saya yang pertama. Tidak hanya keluarga inti, tapi juga nenek dan tante ikut serta. Kami akhirnya mencarter mobil untuk menempuh perjalanan sejauh 200 Km selama hampir 5 jam dari Watampone menuju Makassar.

Awalnya saya tidak mengerti apa maksud perjalanan ini, selain dari kata liburan dan jalan-jalan tentunya. Tapi belakangan saya paham bahwa ada pesan moral yang ingin ditanamkan bapaksecara tidak langsung. Bapak dan Ibu memperlihatkan kami bagaimana pendidikan itu penting untuk bekal hidup kedepan. Mereka juga memotret kami dengan pakaian wisuda yang tentunya kebesaran buat saya. Tapi entah kenapa sejak saat itu ada keinginan kuat, kelak, saya akan berdiri tegap dengan pakaian dan topi yang memang dibuat untuk saya.

Terima kasih juga buat kakak saya yang telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna sebagai anak pertama yang harus memberikan contoh baik buat kami, adik-adiknya.

10 Tahun lalu…
Saya akhirnya bisa mewujudkan impian itu. Meski suasana wisuda saya sangat berbeda dengan yang dialami oleh kakak saya yang pertama tadi. Keluarga yang hadir cuma bapak dan kakak ipar. Bahkan Bapak hampir tidak bisa datang karena gangguan kesehatan. Sebagai anak bungsu saya bangga bisa memberikan sebuah “penutupan” dengan hasil yang cukup memuaskan seperti yang diinginkan orangtua sejak dulu. Tapi jujur tidak ada air mata di sana. Tidak ada haru sama sekali. Saya sadar bahwa perjuangan saya belum selesai, masih banyak yang harus saya lakukan untuk benar-benar bisa berdiri dengan tegap. Mungkin satu-satunya yang membuat saya sedih hanya karena ibu saya sudah tidak ada berdiri di sana untuk memeluk dan menyemangati saya melewati hidup sesungguhnya.

Tahun ini…
Sebuah cita-cita kembali terengkuh dengan manis, meski melalui perjuangan yang berat. Harus menapak sebuah karang yang lebih terjal dan tajam. Setelah berkutat dengan tesis dan semua tetek bengeknya akhirnya saya berhasil mencapai cita-cita yang sudah lama tertunda itu. Segala gundah gulana, beban pikiran dan stress yang belakangan menghinggapi saya, akhirnya lenyap tanpa bekas. Sabuga, April 2012 adalah puncak perjuangan itu.

Alhamdulillah!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s