Sense of Ibadah

Sudah lama juga ga nulis yang serius-serius, menjelang hari raya Idul Kurban, pengen nulisa hal yang sudah lama ada di kepala. Semoga bisa direnungkan.

Saya berani bilang bahwa sadar tidak sadar sebenarnya kita (baca : saya) masih tidak berniat untuk ibadah. Oke untuk ibadah yang wajib, kita mungkin masih melakukan dengan rutin. Sholat lima waktu, berpuasa atau mungkin tambahan mengaji. Tapi pernahkah kita berniat melakukan suatu ibadah sunat bukan ibadah wajib di atas?

Saya ambil contoh yang paling simpel, sedekah dan berkurban. Kenapa kedua ibadah ini yang saya sebutkan? Karena menurut saya, ibadah ini butuh niat dan keinginan yang besar! Kedua ibadah ini umumnya berakhir dengan materi, meski sebenarnya sedekah senyum juga bisa kita lakukan.

Sesuai dengan tujuan utama tulisan ini, saya lebih menitik beratkan kepada niat berkurban. Sekali setahun, kita di perintahkan untuk berkurban (bagi yang mampu). Saya menganggap orang yang membaca tulisan ini, insya Allah, mampu untuk melakukannya. Mampu untuk merelakan sebagian hartanya untuk berkurban tepat di hari raya Idul Adha. Tapi mungkin kita (sekali lagi baca : saya) masih belum memiliki sense of ibadah yang tinggi. Belum memiliki niat yang besar untuk bergerak melakukan lebih jauh diluar ibadah wajib tadi.

Kenapa berat? Karena mungkin sayang dengan harta yang terasa besar keluar dalam satu hari untuk melakukan kegiatan kurban itu. Harga seekor kambing/domba atau 1/7 (bahkan satu) sapi relatif bukan angka yang kecil. Ratusan ribu bahkan jutaan rupiah harus rela dilepas dari deretan saldo di bank atau menguras dalam dompet dan saku kita.

Tapi pernahkah kita berpikir bahwa angka besar itu sebenarnya kamuflase ? Angka besar itu sebenarnya gabungan dari angka-angka kecil saja. Bahkan bila kita bandingkan dengan pengeluaran yang lebih bersifat foya-foya atau kesenangan dunia saja, angka itu tidak ada harganya!

TIdak percaya mari kita hitung-hitungan!

Jika harga seekor kambing adalah 900ribu rupiah (saya mengambil harga rata-rata saja, meski sebenarnya di kampung saya harganya tidak semahal itu). Berapa yang harus kita sisihkan dalam untuk bisa berkurban tepat di hari H?

Jika dalam satu tahun kita ambil angka 365 hari maka sebenarnya kita hanya perlu menyisihkan kurang lebih Rp. 2.500,- saja setiap hari! Kalo saya rata-ratakan dalam sebulan itu ada 30 hari, maka yang harus keluar dari dompet kita adalah Rp. 75.000,- “saja”.

See, TUJUH PULUH LIMA RIBU RUPIAH!

Angka yang relatif kecil bagi orang yang sudah berpenghasilan atau bagi orang yang belum tapi cenderung punya harta berlebih. Coba bandingkan dengan pengeluaran lain. Yang paling sederhana, pengeluaran pulsa. Saya yakin angka pembelian pulsa kita sebulan, rata-rata di atas angka itu kan? Lebih-lebih bagi orang yang punya ke”WAJIB”an membayar sewa BIS (Blackberry Internet Service), atau yang punya tanggungan TV Cable, internet atau yang suka jalan ke Mall, nonton, beli DVD, beli baju, gonta ganti hape! Angka untuk kegiatan terakhir bisa berpuluh-puluh kali lipat dari angka 75.000 di atas. Bahkan dengan kegiatan terakhir tadi sebenarnya mungkin bisa mengumpulkan duit untuk membeli sapi. Mungkin. Yang lebih ekstrim angka 2.500,- itu bisa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan biaya transportasi yang kita keluarkan tiap hari termasuk uang tol, bensin bahkan uang parkir kendaraan sekalipun!

Tapi kenapa masih terasa berat. Mungkin karena sense of ibadah belum lebih tebal dari rasa ingin bersenang-senang secara duniawi. Jadi niat untuk itu tidak sama sekali terpikirkan. Mungkin karena niat itu belum ada jadi kegiatan menyicilnya belum hinggap dibenak sehingga ketika hari H nya pun terasa berat. Kenapa membeli hape yang harganya jutaan rupiah bisa lebih terasa menyenangkan dibandingkan dengan membeli kambing yang “hanya” ratusan ribu saja? Karena kita lebih menikmati kegiatan duniawi itu.

Bukan berarti dengan ibadah kita musti mengesampingkan kegiatan duniawi (yang halal). Bukan! Kita hanya perlu memikirkan adanya keseimbangan di antara keduanya. Syukur-syukur bisa lebih “tepat” porsinya. Mari kita sisihkan sebagian kecil dari apa yang kita miliki sekarang. Niat dan konsistensi aksinya yang paling penting. Hentikan bisikan-bisikan yang berniat menjauhkan dari ladang amal seperti ini.

Mari kita mulai dari diri sendiri…
Mari kita mulai dari sekarang…

*Tulisan ini sebenarnya ditujukan buat saya pribadi. Tapi kalau ada yang berkenan menirunya, Alhamdulillah!

**Terinspirasi dari seorang buruh cuci, 6 tahun yang lalu, yang dengan upah tidak sampai 30ribu sehari, tapi bisa terus rutin melakukan kegiatan berkurban setiap tahunnya. “Terima kasih mbah, sudah membuka mata dan pikiran ini”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s