Review singkat 2 Film Lokal

Hi WPers!

Entah karena apa, gw setahun ini malas mereview film yang gw tonton. Padahal ada banyak pikiran setelah nonton film yang ingin gw tuangkan lewat review. Tapi yah itu tadi semangat nulis itu hilang menguap dan belum menyublim kembali. Blog film gw di http://kacamatafilm.blogspot.com pun terbengkalai. Kalo kamu intip blog film gw itu, update terakhir ada di bulan Maret dengan film Iron Man 3. Kalo dipikir-pikir sayang juga sih, apalagi beberapa teman yang katanya rutin baca review film gw dan bahkan menjadi acuan mereka dalam memilih film di bioskop (asli gw tersanjung dengan ini) terus menanyakan kapan ada review terbaru. Sebenarnya gw tetap mereview film sih. Lewat aplikasi Movreak (For android dan iOS) gw secara instant memberikan review dan score setiap film yang telah gw tonton. Bahkan Movreak telah memberikan logo verified buat akun gw, anchaanwar. Jadi kalo mau baca review film dari gw dan beberapa akun di sana, download dan install Movreak di smartphone kalian ya. Hehehe… malah promo akun movreak😀

Tanpa mengabaikan blog film itu, gw justru pengen menulis review film di sini. Dua film lokal yang fresh from the oven tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Film itu adalah :

1. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Bersama nyonya, gw menonton film ini di Grand City, Surabaya. Dan surprisingly, i liked it!

Image

Zainuddin (Herjunot Ali), pemuda blasteran Makassar dan Minang berniat merantau ke tanah kelahiran bapaknya di tanah Minang. Dia ingin mengenal keluarga bapaknya sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Di sana dia bertemu dengan Hayati (Pevita Pearce), bunga desa yang cantik jelita dan menjadi kebanggaan keluarganya. Cinta Zainuddin ternyata tak beertepuk sebelah tangan. Hayati juga mencintainya, meski Hayati tau keluarganya tak bakal menyetujuinya mengingat Zainuddin dianggap tak bersuku dengan pekerjaan yang ga jelas dan tidak mapan.

Secara tragis, cinta Zainuddin tidak hanya ditolak keluarga Hayati, tapi juga dia terusir dari tanah kelahiran bapaknya. Berbekal tekad dan sumpah Hayati yang akan setia menunggunya, Zainuddin pun pergi ke Padang Panjang. Jarak yang memisahkan membuat cinta dua insan itu semakin jauh dan tidak jelas. Apalagi kehadiran Azis (Reza Rahadian) pemuda tampan, kaya raya dan bergaya hidup modern hadir menjadi sosok ketiga dalam hubungan memperburuk keadaan.

Film ini menyuguhkan sebuah kisah klasik yang pernah sukses lewat buku karya Buya Hamka. Dan tidak heran cerita yang ditawarkan pun kental dengan roman bergaya masa lalu. Kalo di jaman sekarang, kisah cinta yang dialami tokoh-tokoh ceritanya penuh dengan hal-hal yang cheesy dan predictable. Gw pribadi sudah meng- underestimated duluan sebelum nonton. Ternyata ada beberapa kelebihan yang membuat gw kembali menarik dugaan gw semula.

Setting cerita yang niat membuat film ini asik untuk dinikmati. Peralihan adegan demi adegan cukup linear dan menarik. Panorama 4 kota yang ditampilkan pun sangat indah meski ada beberapa toning color yang cukup mengganggu. Kesan Purple tin yang ditampilkan disuasana pegunungan Batupih, Sumatera Barat itu terasa maksa.

Kekuatan akting para pemainnya juga bisa diacungi jempol terutama Reza Rahadian (as usual), meski aksen Makassar yang ditampilkan Herjunot Ali bener-bener mengganggu telinga gw. It’s totally irritating my ears! Sebagai orang yang tau banget logat Makassar, 80% intonasi makassar Junot itu ga natural dan salah cengkok. Hehehe… But it’s okay, tokh dia juga tampil oke.

Oia, dari judul film mungkin sebagian besar akan berpikiran bahwa filmnya akan terinfluence dengan film Titanic yang melegenda itu. salah besar! Gw melihat sentuhan The Great Gatsby, film Leonardo Dicaprio justru terasa sangat kental di film ini. Adegan kapal Van Der Wijck yang tenggelam itu hanya tempelan saja, meski gw akui, scene ‘tenggelamnya’ sangat art dan menarik.

Overall, gw memberikan score 3/5 untuk film ini.

***

2. Laskar Pelangi 2 : Edensor

Film ini adalah lanjutan dari kisah Ikal di tetralogi Laskar Pelangi. Kisah Ikal dan Arai yang akhirnya terdampar di Eropa untuk meraih cita-cita mereka. Kisah yang gw ragu akan difilmkan karena di bukunya berlokasi 100% di Eropa.

Begitu film diputar, langsung terasa ada yang hilang. Iya, logo miles production yang selalu ada di dua film sebelumnya kini berganti dengan production yang lain. Kekhawatiran sentuhan khas miles akan hilang terbukti di sepanjang film. Iya, gw kecewa. Satu yang gw appreciate, lokasi film ini 90% asli berlokasi di Paris. Bukan lokasi fake dengan salju CGI seperti yang ditampilkan di akhir film Sang Pemimpi.

Kehadiran Lukman Sardi sebagai Ikal yang sedang menjalankan masa-masanya sebagai mahasiswa sungguh ga tepat. Apalagi kemudian disandingkan dengan Abimanya yang memerankan Arai. Terasa banget kalo ada beda generasinya. Chemistry keduanya terasa ga klik. Padahal akting mereka bagus loh.

Beberapa joking yang dilontarkan film ini terasa garing dan basi. Musiknya juga ga sebagus dua film sebelumnya. Yang paling gw sayangkan adalah film ini sama sekali tidak menampilkan tur Eropa yang dijalani Ikal dan Arai. Sementara di bukunya, part ini tergambarnkan dengan epic. Bisa jadi karena keterbatasan anggaran. Film ini justru lebih banyak menayangkan kisah percintaan Ikal dengan Katya, mahasiswi dari Jerman. Hadehh…

Satu lagi pertanyaan gw, kenapa film ini diberi judul Laskar Pelangi 2? Sementara kita tau banget kalo Edensor adalah buku ke tiga dari kisah Laskar Pelangi? Apakah khawatir mereka ga akan laku? Atau ingin mendompleng dan mengulang kesuksesan film Laskar Pelangi? Ga tau juga, yang jelas, kalo buku Edensor (salah satu buku yang oke!) aja filmnya seperti ini, gw jadi ga mau berharap dengan film Maryamah Karpov hahahaha…

Untuk film ini, gw kasih nilai 2/5 saja.

Image

11 thoughts on “Review singkat 2 Film Lokal

  1. ayanapunya December 25, 2013 / 10:42 am

    saking ngototnya junot pakai logat makassar itu, sampai bikin ketawa para penonton, hehe
    soal reza rahadian, dia itu terlalu kuat baik dari segi nama maupun akting. bahkan walau perannya cuma dikit tetap aja dia terlihat menonjol. untung si junot aktingnya juga nggak jelek. jadinya nggak kebanting. 3,5/5

    • anchaanwar June 4, 2014 / 6:37 am

      eh ternyata komen2 di tulisan ini belum gw reply hahaha
      Jadi pengen nonton lagi nih film

      • ayanapunya June 4, 2014 / 7:02 am

        aku juga, cha. tapi katanya nggak ada versi dvd-nya ya?

  2. hensamfamily December 30, 2013 / 1:00 pm

    2 2nya belum nonton. Tapi liat trailer yg vanderwik itu apa iya jaman dulu pakean cewe nya tanpa lengan semua gitu? disadur dari novel Hamka pula?

    • anchaanwar June 4, 2014 / 6:38 am

      Kalo dari segi karakter sih keknya sudah cocok karena yg pake kostum seperti itu mmg digambarkan kalangan atas yang hedon. Kalo yang dikampung masih pake baju kurung kok

  3. close2mrtj June 4, 2014 / 4:10 am

    pengen komen aahh..
    untuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, sejak baru liat trailernya gw langsung pengen nonton ini. harus di bioskop, bukan nungguin dvdnya. waktu itu sih alasannya pastinya bukan karena ini mirip Titanic, dsb. film Indonesia dengan setting jadul buat gw itu istimewa. karena bukan hanya hasilnya yg gw pengen liat, tapi lebih karena niatnya.
    nah, kan kayanya keinginan bikin film Indonesia jadi bagus di filmmaker sini masih ada banget tuh. ya, sok menghargai lah gw. gitu. hehehe…

    meski pada hasilnya sebenernya khusus di film ini ada beberapa bagian yg sayangnya harus ada. kalo menurut gw, penempatan lagu2nya tuh kadang ganggu deh. jadi kurang syahdu aja gitu. kenapa ga pake music-score aja pada bagian2 tertentu itu. misalnya nih kaya waktu si Hayati bersumpah sambil ngasih kerudungnya ke Zainuddin. itu lebih enak kalo dipasang music-score aja. bukan lagu gitu. mana kenceng banget suaranya. jadi momennya agak rusak kalo menurut gw. dan masih banyak lagi sih contoh2 seperti ini.

    nah, kembali ke urusan jadul2an itu tadi. sayang banget ada beberapa bagian yg terkesan ga diperhatiin. misalnya model rambut para figurannya. itu banyak yg modelnya hari gini. hahaha… terus, kenapa londo2nya kok dikit? dan di jalan2 kota, banyak yg make baju modern kala itu, yg kayanya harusnya dipake sama para Belanda. tapi di situ, malah para pribuminya. kalo emang mau para pribuminya yg banyak berkeliaran, kenapa ga bajunya yg pas gitu lho.

    tapi overall, ya ga papa kalo ada kekurang2an gini sih. cuma agak lebih diperhatikan kan lebih asik tuh hasilnya. dan ya, kembali ke yg gw bilang tadi, yg penting niat ngebagusin film sini itu masih ada gitu di filmmakernya.

    itu kalo kata sayah yaaaa….

    kalo film Laskar Pelangi 2 : Edensor, itu belom nonton sampe sekarang. hihihihi…
    ntar nyari aaah, di rental…😀

    • anchaanwar June 4, 2014 / 4:19 am

      ish tijeh… akuh terharu, komennya okeh banget.

      • close2mrtj June 4, 2014 / 4:28 am

        ih, anchaa… aku lebih terharu lagi, kamuh jawabnya singkat begitu.. hiks…

      • anchaanwar June 4, 2014 / 4:29 am

        Terus gw harus komen kek gimana tijeh. Kalo gw harus komen panjang2 mending sekalian gw ngeblog aja lagi. Hih…
        GW KASIH HURUF K LAGI NIH. MAOK?
        :))))

      • close2mrtj June 4, 2014 / 4:59 am

        hahahaha… au ah!!

        apa??? K lagi? KAMPREEEETTT!!!

      • anchaanwar June 4, 2014 / 6:39 am

        KKKKKKKKKKKKKK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s