Review Sotta : Uang Panai – Mahar(L)

poster-film-uang-panai-1

First of all, saya mau bilang, setelah sekian lama ga ngeblog dan bahkan mereview film, kini berkat film yang super duper hitz di kampung halaman saya ini, saya akhirnya kembali tertarik menulis apa yang saya rasakan selama menonton filmnya.

Terus mau bikin pengakuan juga, saya nonton film ini dari saluran bajakan yang sangat susah payah saya dapatkan linknya dan akhirnya nemu di laman Facebook orang yang entah siapa, saya pun tak kenal. Setelah sebelumnya saya terjebak dengan video-video uploadan Youtube yang mencatut judul film ini, yang setelah diputar… ugh! Well, ada beberapa alasan kenapa saya ga sempat nonton film ini di Bioskop. Pertama, pada saat film ini tayang, saya pas lagi dikarantina di daerah Gadog – Bogor, mengecap kelas diklat dari kantor saya. Dan saya sama sekali ga bisa kabur hanya untuk sekedar mencari dan menonton film ini. Kedua, di Jabodetabek, film ini ditayangkan hanya di bioskop-bioskop tertentu saja. Sepengecekan saya, ga butuh dua tangan untuk menghitung berapa bioskop yang mau memberikan space studio untuk memutar film buatan anak Makassar ini. Plis cmiiw! Sehabis diklat, filmnya sdh ga tayang, akhirnya ga bisa nemu lagi di Bioskop. Jadi sekali lagi mohon maaf, karena rasa penasaran yang sangat tinggilah akhirnya saya terpaksa melakukan ini semua. Maaf ya.

Oke, mari kita mulai membahas filmnya lebih jauh dari kacamata saya pribadi, pengamat film wannabe. Hehehe….

Sinopsisnya:
Ancha (Yes… nama karakternya Ancha, sama dengan nama saya, Aha!) kembali dari perantauan (tidak diceritakan apakah kuliah atau kerja) pulang ke kampung halamannya, Makassar. Di hari kepulangannya itu, secara “kebetulan” bertemu dengan Risna, mantan pacarnya 4 tahun lalu. CLBK pun terjadi. Singkat cerita, Ancha berniat melamar Risna, tapi terbentur dengan tradisi Uang Panai yang dipasang tinggi oleh calon mertua. Ancha pun berusaha sekuat tenaga mengumpulkan uang agar bisa menikahi Risna. Konflik terjadi ketika Farhan, sahabat kecil Risna yang baru pulang dari Amerika, muncul di antara mereka.

=======

Pemilihan tema uang panai menjadi inti dari cerita film ini memang sangat cerdas. Bagaimana tidak, masalah uang panai ini bisa dibilang menjadi masalah hampir semua laki-laki Bugis Makassar atau paling tidak laki-laki yang pernah berniat melamar wanita Bugis Makassar. Masalah yang membumi di kalangan sana dan sudah menjadi isu bersama masyarakat, kemudian sebagian orang malah menjadikannya bahan guyonan atau tertawaan. Entah itu ketawa ngejek atau “Ketawa Kacci” (Cemberut, red).

Tapi sayangnya tema yang sudah sangat menarik ini tidak dikembangkan lebih lanjut. Sayang sekali. Malah kesannya hanya jadi pemicu cerita kisah cinta Ancha – Risna yang di FTV-FTV TV nasional juga banyak ditampilkan. Padahal ada banyak ruang yang bisa digunakan untuk mengembangkan ceritanya. Misalnya saja proses pelamaran yang melibatkan dua keluarga secara adat. Atau reaksi keluarga pihak laki-laki tentang tawaran pihak wanita. Atau apalah yang melibatkan dua pihak keluarga. Karena pada kenyataannya, peluang konflik dua keluarga yang sedang melakukan “transaksi nikah” biasanya jauh lebih besar terjadi. Yang saya suka, ada selipan beberapa petuah-petuah bugis Makassar sangat bagus maknanya. Tegas dan kuat. Perlu kembali dibudayakan!

uang-panai_20160414_195037
Keren-keren ji tawwa penampakkannya ^^d

Berbicara soal cast, seperti dugaan saya sebelumnya, ya begitulah… Sebagai aktor pemula, sebenarnya cukup lumayan. Tapi kalo kemudian mau disejajarkan dengan aktor-aktor pemula lainnya di level nasional, masih terasa jauh. Akting yang kaku dengan dialog yang tidak fluent cukup menganggu selama film berlangsung. Kalolah ini hanya sekedar fragmen di TV lokal Makassar, mungkin bisa dimaklumi. Tapi ini kan ceritanya mau menembus pasar nasional, dan saya ga yakin penonton non Bugis Makassar akan mau memaklumi hal itu.

Ada dua hal yang ingin saya bahas soal dialognya. Pertama saya harus puji sutradaranya yang mau menerapkan semua dialog dalam aksen Bugis Makassar asli, tidak sok kekinian dengan logat daerah lain seperti Jakarta atau sunda (kecuali Farhan yang katanya dari Amerika, tapi nginggrisnya bikin mokal. Hahaha… Oops). To be honest, hal ini mengobati kerinduan saya dengan logat Bugis Makassar yang sangat kuat karakternya. Tapi di sisi lain, dialog yang ditampilkan terasa artificial dan tidak mengalir. Ancha contohnya, ngomongnya seperti bersajak, terpatah-patah, seperti orang yang mengingat dialog. Orang Makassar ga segitunya juga kali kalo mereka ngobrol. Satu-satunya dialog yang enak dan terasa natural Bugis Makassarnya adalah tektok antara Tumming dan Abu. Sayangnya, dua karakter penolong ini terlalu mendominasi film. Porsinya sebagai pemain pendukung dan ice breaker sangat berlebihan sehingga saya merasa Ancha dan Risna malah hampir ketilep sama Tumming-Abu. Kata beberapa teman yang sudah nonton, justru Tumming Abu inilah yang menjadi magnet masyarakat untuk mau nonton filmnya. Yah ada benarnya juga sih. Karena bisa dibayangkan kalo film ini tidak menghadirkan mereka, pasti jadi garing total. Meski sebenarnya mereka juga terkadang menampilkan slapsticks berlebihan. Hahaha…

c75ba58ae20154e74c26c6279075b9b6

Kalo bicara soal special appearance Katon dan jane, it’s useless. Maksud saya, penampilan mereka di sana ga memberikan poin lebih. Dan saya yakin, ga ada merekapun orang tetap mau nonton kok. Atau at least, saya deh, mau nonton film ini bukan karena mereka.

20160315foto_katon1
Dipakkammana KatonG kesiang :)))

Sinematografi film ini sudah oke. Ga kalah dengan film-film Indonesia lainnya. Meski sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana ‘menjual’ Makassar dengan menampilkan Makassar secara lebih indah. Cuma ada beberapa set lokasi yang menurut saya terlalu out of my mind. Misalnya ketika Risna dan Ancha janjian ketemu di gang atau lorong. Hahaha… plis deh, ga sekalian di panyingkul? Kenapa ga di tempat yang biasa aja. Di warteg keknya lebih masuk akal deh. Atau ketika mereka mau ‘silariang’, kenapa milihnya Pelabuhan, ya? Kenapa ga terminal aja? Risna kan tau Bapaknya orang Pelabuhan, ya gampang kedapatan lah. Atau bandara deh sekalian. Hahaha… sorry, ini pemikiran rasional saya aja sih.😀

screen-shot-2016-10-05-at-10-56-27-am
Anak lorong-lorong tawwa, nak😀

Ada juga beberapa hal yang menurut saya mengurangi nilai filmnya, terutama dari sisi continuity film. Contohnya ini:

Adegan Farhan yang kecewa sama Daddy-nya. Perhatikan gambar pertama, Farhan kecewa, kesal terus meninggalkan Daddy. tapi ketika di-flashback,  setnya sudah berubah, meski dialognya tetap sama.

screen-shot-2016-10-05-at-7-44-51-am

screen-shot-2016-10-05-at-7-42-53-am

Ketidakkonsistenan beberapa pemain dan kejanggalannya juga sering terjadi. Contohnya :

Tantenya Risna (di gambar pertama yang paling kanan).
Di kemunculan awalnya, dia salah satu orang yang memprovokatori ibunya Risna untuk mematok Uang Panai setinggi mungkin. Memanas-manasi keadaan. Tapi pada kemunculan berikutnya jadi begitu bijak memberikan wejangan tentang arti pernikahan ketika Risna curhat.

screen-shot-2016-10-05-at-7-14-00-am

screen-shot-2016-10-05-at-7-16-00-am
Tantenya Risna baka :)))

Bapaknya Risna
Punya kepribadian yang membingungkan. Di awal, dialah yang paling saklek mematok dan menuntut Uang Panai agar segera mungkin dilunasi, tapi pada akhirnya dia berubah bijak… Setelah… setelah… err… utangnya dilunasi pake uang panai. hhihihi… Kalo di kehidupan nyata, Ancha pasti bilang, “Di situ tong maki sa nilai Camer!”.

screen-shot-2016-10-05-at-7-58-02-am

screen-shot-2016-10-05-at-7-57-14-am

Ancha
Merantau kurang lebih 4 tahun lamanya, dan pulang-pulang hanya membawa ransel? Oh C’mon! Kek ga kenal aja orang Bugis Makassar kalo pulang dari sompe. Oleh-oleh saja bisa  sampai 2 koper. Hahaha…

screen-shot-2016-10-05-at-9-05-23-pm

Ah, sudahlah… sudah kepanjangan tauk, Cha! sekian lama ga ngeblog malah nyinyir kek gini. Hihihihi…

=======

Well, terlepas dari review saya yang ‘sotta’ banget ini, saya mau ngucapin, Congratz atas respon masyarakat terhadap film ini. Dengar-dengar sudah menembus angka 500 ribu penonton! Sebuah angka yang fantastis dan patut diacungin jempol. Keliatan sekali bahwa masyarakat Bugis Makassar sangat rindu dengan film nuansa ‘lokal’ dan tentunya dengan tema yang membumi. Saya aja yang awalnya tidak begitu tertarik (waktu liat trailernya) akhirnya tergerak juga mau nonton, walau kemudian hanya kebagian nontonnya dengan cara begini. Hehehe… Taddampengangnga kasi’.

Semoga, film berikutnya bisa lebih baik dan lebih sukses, dengan komposisi ‘lokal’ yang harus tetap dipertahankan. Bisa bersaing dengan film-film nasional lainnya, bisa lebih banyak dan lama diputar di bioskop seluruh Indonesia, jadi saya juga bisa ikut nonton tanpa harus kasak kusuk nyari link streamingnya.

Last but not the least, thanks sudah memilih nama Ancha sebagai nama karakter utamanya ya… Akhirnya ada juga yang make nama ini sebagai karakter utama yang keren dan penting, setelah sebelumnya nama Ancha dipake oleh… oleh pembokat Raditya Dika yang naif dan oon di serial Malam Minggu Miko di Kompas TV. Hahaha…

Ditunggu karya-karya berikutnya. EWAKO!

11 thoughts on “Review Sotta : Uang Panai – Mahar(L)

  1. ayanapunya October 5, 2016 / 5:41 am

    kalau di sini uang panai itu disebut uang jujuran

  2. rayamakyus October 5, 2016 / 5:54 am

    beluuuumpa nontongi,hahahaha… kalau sudah bapana fatih yang review sa kira jelaasmi😀..

    • anchaanwar October 6, 2016 / 1:04 am

      Pi mako nonton itu, ka masih diputar ji itu di bioskop Kendari to?

  3. omnduut October 5, 2016 / 7:19 am

    Menarik🙂 jadi ternyata menyunting cewek Bugis sama “mahalnya” dengan menyunting cewek Aceh ya🙂

    • anchaanwar October 6, 2016 / 1:05 am

      OO jadi calonnya orang Aceh, ya Yan? Okesip… semoga lancar ya urusannya hehehe

  4. Vita Masli October 5, 2016 / 1:43 pm

    Eaaaaa… Ancha ji! 😁😁😁.
    Jangko lupa nonton Athirah cez, kalo ko rindu logat ke”Bone-bone” an.

    • anchaanwar October 6, 2016 / 1:06 am

      Pacce tongi ini Athira, masa di Depok ga sampe seminggu tayangnya. Masih kalah sama Warkop reborn yang masih tayang di dua studio. Warbiyasak

  5. museliem October 7, 2016 / 10:08 pm

    Hehehehe…. So complicated to get married…. Thus, i’m still single… I cant afford to pay ‘Panai’ or whatever you name it…

    • anchaanwar October 8, 2016 / 2:46 am

      Muse, just come over here and start ur new life. Back for good! The bright future is already waiting for you, buddy. Gw bantu doa, semoga dapat jodoh yg terbaik. Aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s